Jumat, 27 Januari 2023

Cerita di ujung hidup seorang manusia yang sangat mencintai kita semua*

 *Cerita di ujung hidup seorang manusia yang sangat mencintai kita semua*


Allahuma Sholli'alaa Sayyidina Muhammad.

Cerita yang tak pernah ada bosannya 

Mohon dibaca yaa...

Sangat Mengharukan...

😭😭😭😭😭


Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh...


Kisah ini terjadi pada diri Rasulullah SAW sebelum wafat.

Rasulullah SAW telah jatuh sakit agak lama, sehingga keadaan beliau sangat lemah.


Pada suatu hari, Rasulullah SAW meminta Bilal memanggil semua Sahabat datang ke Masjid. Tidak lama kemudian, penuhlah Masjid dgn para Sahabat.

Semuanya merasa rindu setelah agak lama tidak mendpt Taushiyah dari Rasulullah SAW.


Beliau duduk dgn lemah di atas mimbar. Wajahnya terlihat pucat,

menahan sakit yg tengah dideritanya.


Kemudian Rasulullah SAW bersabda: "Wahai sahabat2ku semua. Aku ingin bertanya, apakah telah aku sampaikan semua kpdmu,

bahwa sesungguhnya Allah SWT itu adalah satu2nya Tuhan yg layak disembah?"


Semua Sahabat menjwb dgn suara bersemangat,

"Benar wahai Rasulullah,

Engkau telah sampaikan kpd kami bahwa sesungguhnya Allah SWT adalah satu2nya Tuhan yg layak disembah."


Kemudian Rasulullah SAW bersabda:

"Persaksikanlah ya Allah. Sesungguhnya aku telah menyampaikan amanah ini kepada mereka."


Kemudian Rasulullah SAW bersabda lagi,

dan setiap apa yg Rasulullah sabdakan selalu dibenarkan oleh para sahabat.


Akhirnya sampailah pada satu pertanyaan yg menjadikan para Sahabat sedih dan terharu. 


Rasulullah SAW bersabda:

"Sesungguhnya,

aku akan pergi menemui Allah SWT,

Dan sblm aku pergi,

aku ingin menyelesaikan segala urusan dgn manusia.

Maka aku ingin bertanya kepada kalian semua.

Adakah aku berhutang kepada kalian?

Aku ingin menyelesaikan hutang tersebut.

Karena aku tidak mau bertemu dgn Allah SWT dalam keadaan berhutang dgn manusia."


Ketika itu semua para Sahabat diam,

dan dalam hati masing2 berkata "Mana ada Rasullullah SAW berhutang dengan kita? Kamilah yg banyak berhutang kepada Rasulullah".


Rasulullah SAW mengulangi pertanyaan itu sebanyak 3 kali.


Tiba2 bangun seorang lelaki yg bernama UKASYAH,

seorg sahabat, mantan preman sblm masuk Islam, dan

dia berkata:


"Ya Rasulullah...

Aku ingin sampaikan masalah ini.

Seandainya ini dianggap hutang,

Maka aku minta engkau selesaikan. Seandainya bukan hutang, maka tidak perlulah engkau berbuat apa2".


Rasulullah SAW berkata: "Sampaikanlah wahai Ukasyah".


Maka Ukasyah pun mulai bercerita:

"Aku masih ingat ketika perang Uhud dulu, suatu ketika engkau menunggang kuda, lalu engkau pukulkan cemeti ke belakang kuda.

Tetapi cemeti tsb tidak kena pada belakang kuda,

Tapi justeru terkena pada dadaku,

Karena ketika itu aku berdiri dibelakang kuda yg engkau tunggangi wahai Rasulullah".


Mendengar itu,

Rasulullah SAW berkata: "Sesungguhnya itu adalah hutang wahai Ukasyah. Kalau dulu aku pukul engkau,

Maka hari ini aku akan terima hal yg sama."


Dengan suara yang agak tinggi,

Ukasyah berkata: "Kalau begitu aku ingin segera melakukannya wahai Rasulullah."


Ukasyah se-akan2 tidak merasa bersalah mengatakan demikian. 


Sedangkan ketika itu sebagian sahabat berteriak marah kepada Ukasyah. 

"Sungguh engkau tidak berperasaan Ukasyah. Bukankah Baginda sedang sakit..!!?


Ukasyah tidak menghiraukan semua itu.

Rasulullah SAW meminta Bilal mengambil cambuk di rumah Fatimah, anaknya.


Bilal meminta cambuk itu dari Fatimah,

Kemudian Fatimah bertanya: "Untuk apa Rasulullah meminta cambuk ini wahai Bilal?"


Bilal menjwb dengan nada sedih: "Cambuk ini akan digunakan Ukasyah untuk memukul Rasulullah."


Terperanjat dan menangislah Fatimah, seraya berkata:

"Kenapa Ukasyah hendak memukul Ayahku Rasulullah?

Ayahku sedang sakit,

kalau mau memukul,

pukullah aku anaknya".


Bilal menjawab: "Sesungguhnya ini adalah urusan antara mereka berdua".


Bilal membawa cambuk tersebut ke Masjid lalu diberikannya kepada Ukasyah.

Setelah mengambil cambuk itu,

Ukasyah menuju ke hadapan Rasulullah. 


Tiba2, Abu Bakar berdiri menghalangi Ukasyah sambil

berkata: "Ukasyah... kalau kamu hendak memukul,

pukullah aku..!!

Aku adalah orang yang pertama beriman dgn apa yg Rasulullah SAW sampaikan.

Akulah sahabatnya di kala suka dan duka.

Kalau engkau hendak memukul,

maka pukullah aku".


Rasulullah SAW bersabda: "Duduklah wahai Abu Bakar.

Ini urusan antara aku dgn Ukasyah".


Ukasyah menuju ke hadapan Rasulullah SAW. Kemudian Umar bin Khattab berdiri menghalangi Ukasyah sambil berkata:


"Ukasyah...

kalau engkau mau mukul, pukullah aku.

Dulu memang aku tidak suka mendengar nama Muhammad,

bahkan aku pernah berniat untuk menyakitinya.

Itu dulu. Sekarang, tidak boleh ada seorang pun yg boleh menyakiti Rasulullah Muhammad SAW.

Kalau engkau berani menyakiti Rasulullah,

maka langkahi dulu mayatku..!!"


Lalu dijawab oleh Rasulullah SAW:

"Duduklah wahai Umar. Ini urusan antara aku dengan Ukasyah".


Ukasyah menuju ke hadapan Rasulullah, dan tiba2 berdirilah Ali bin Abu Talib, sepupu sekaligus menantu Rasulullah SAW.


Dia menghalangi Ukasyah sambil berkata: "Ukasyah, pukullah aku saja.

Darah yang sama mengalir pada tubuhku ini wahai Ukasyah".


Lalu dijawab oleh Rasulullah SAW:

"Duduklah wahai Ali,

ini urusan antara aku dengan Ukasyah".


Ukasyah semakin dekat dgn Rasulullah SAW. Tiba2 tanpa disangka, bangkitlah kedua cucu kesayangan Rasulullah SAW yaitu Hasan dan Husen. 


Mereka berdua memegangi tangan Ukasyah sambil memohon...

"Wahai Paman,

pukullah kami Paman, Kakek kami sedang sakit,

Pukullah kami saja wahai Paman,,

sesungguhnya kami ini Cucu kesayangan Rasulullah SAW.

Dengan memukul kami, sesungguhnya itu sama dengan menyakiti Kakek kami,, wahai Paman."


Lalu Rasulullah SAW berkata: "Wahai Cucu2 kesayanganku, duduklah kalian.

Ini urusan kakek dengan Paman Ukasyah".


Begitu sampai di tangga mimbar,

dengan lantang Ukasyah berkata:


"Bagaimana aku mau memukul engkau ya Rasulullah. Engkau duduk di atas dan aku di bawah. Kalau engkau mau aku pukul, maka turunlah ke bawah sini..!!"


Rasulullah SAW memang manusia terbaik. Kekasih Allah itu meminta beberapa sahabat memapahnya ke bawah. Rasulullah SAW didudukkan pada sebuah kursi,

lalu dengan suara tegas Ukasyah berkata lagi:


"Dulu waktu engkau memukul aku, aku tidak memakai baju,

Ya Rasulullah."


Para sahabat sangat geram mendengar perkataan Ukasyah.

Tanpa ber-lama2 dalam keadaan lemah, Rasulullah SAW membuka bajunya. Kemudian terlihatlah tubuh Rasulullah yg sangat indah; sedang beberapa batu terikat di perut Rasulullah, pertanda Rasulullah sedang menahan lapar...


Kemudian Rasulullah SAW berkata:

"Wahai Ukasyah,

Segeralah dan janganlah kamu ber-lebih2an.

Nanti Allah SWT akan murka padamu."


Ukasyah langsung menghambur menuju Rasulullah SAW,, Cambuk di tangannya ia buang jauh2. Kemudian ia peluk tubuh Rasulullah SAW se-erat2nya,, sambil menangis sejadi-jadi2nya...


Ukasyah berkata:

"Ya Rasulullah, Ampuni aku,

Maafkan aku;

Mana ada manusia yg sanggup menyakiti engkau ya Rasulullah. Sengaja aku melakukannya, agar aku dapat merapatkan tubuhku dengan tubuhmu...

Karena Engkau pernah mengatakan "Barang siapa yang kulitnya pernah bersentuhan denganku, maka diharamkan api neraka atasnya."


Seumur hidupku aku ber-cita2 dapat memelukmu.

Karena sesungguhnya aku tahu bahwa tubuhmu tidak akan dimakan oleh api neraka. 


Dan sungguh aku takut dengan api neraka.

Maafkan aku ya Rasulullah..."


Rasulullah SAW dgn senyum berkata:


"Wahai sahabat2ku semua, kalau kalian ingin melihat Ahli Syurga, maka lihatlah Ukasyah..!!"


Semua sahabat menitikkan air mata. Kemudian para sahabat bergantian memeluk Rasulullah SAW.


SEMOGA dengan membaca ini, bila ada air mata, ini membuktikan Kecintaan kita kepada Kekasih Allah SWT...

*Allahumma'sholli 'alaa Sayyidina Muhammad.* 

*Allahumma sholli 'alayhi wassalam...*


Semoga Allah SWT selalu meridhai kita semua. 


Jangan sampai kisah  ini kalah populer dibanding berita2 yang ada saat ini..!!

                                                                                    Seluruh dunia mencintai Nabi MUHAMMAD Shollallalu Alaihi Wasallam.

Minggu, 16 Juni 2019

PIDATO KETUA MK ANWAR USMAN

INDONESIAKU


Ketua Mahkamah Konstitusi (MK)


DR Anwar Usman, SH, MH
Dalam pidato perdananya, Anwar Usman menegaskan bahwa untuk mencapai suatu keputusan yang berkeadilan, seorang hakim tidak cukup hanya bersandar kepada kemampuan intelektualitas semata, namun kecerdasan spiritual dengan selalu memohon pertolongan dan bimbinganNya dalam sunyi dan keheningan juga merupakan bagian dari ikhtiar yang tidak kalah pentingnya.

Berikut pidato Ketua MK Dr Anwar Usman, SH, MH:

“Innalillahi wa-innailaihi rajiun. Sesungguhnya segala sesuatu itu datangnya dari Allah, dan segala sesuatu itu, akan kembali kepadaNya.”

Saya mengawali sambutan ini dengan kata innalillahi, karena saya meyakini bahwa suatu jabatan pada hakekatnya merupakan ujian yang diberikan kepada hambaNya. Oleh karena itu jika seseorang menghadapi suatu ujian, maka, hanya kepada penciptanyalah tempat dia mengadu dan memohon pertolongan.

Dalam prespektif agama, jabatan hakim didudukkan sebagai jabatan yang mulia, sehingga seorang hakim diibaratkan sebagai wakil Tuhan di muka bumi, yang berhak untuk memutus perkara, dan menentukan nasib seseorang atau suatu kaum.

Dalam  prespektif teori kedaulatan, jabatan hakim merupakan jabaran dari teori kedaulatan Tuhan yang menyeimbangkan teiori kedaulatan lainnya, yaitu kedaulatan rakyat yang dimanifestasikan dalam lembaga parlemen, dan kedualatan rakyat yang dimanifestasikan dalam lembaga ekskutif.

Dengan kewenangan yang dimilikinya, hakim bahkan dapat membatalkan apa yang telah menjadi keputusan lembaga parlemen atau lembaga ekskutif, jika menurut pertimbangannya, keputusan yang dikeluarkan oleh lembaga tersebut dianggap melawan hukum atau merugikan orang banyak.

Dengan kewenangan besar yang dimilikinya, maka seorang hakim harus menjaga kemuliaan dirinya dan jabatannya agar dapat dipertanggungjawabkan, tidak hanya di dunia, namun di akhirat kelak, karena putusan yang diambil seorang hakim tidak hanya ditujukan untuk menegakkan hukum semata, melainkan sekaligus untuk menegakkan keadilan sebagaimana diatur dalam pasal 24 ayat 1 UUD 1945. Hal tersebut sejalan dengan amanah Allah  dalam firmanNya surat An-Nisa ayat 58: Wa idza hakamtum bainannas an tahkumu bi al-adl. (Apabila kamu menetapkan hukum di antara sesama, maka hukumlah dengan adil).

Untuk itu seorang hakim harus hati-hati dalam menyampaikan pandangan dan tutur katanya, serta harus menjaga pula tingkah laku. Salah satu ciri kemuliaan seorang hakim adalah, satunya kata dengan perbuatan.

Saya memiliki kesamaan pandangan dengan hakim konstitusi terdahulu, yang mulia Prof Mukti Fajar, SH, MH. Beliau mengatakan bahwa hakim adalah pekerjaan yang sepi, seorang hakim harus merelakan dirinya untuk jauh dari hiruk pikuk kehidupan sosial, dan media.

Ia harus rela bekerja dalam sunyi dan keheningan untuk menjaga dirinya agar bisa memutuskan perkara dengan hati dan jiwa yang  bersih. Saya meyakini, bahwa untuk mencapai suatu keputusan yang berkeadilan, tidak cukup hanya bersandar kepada kemampuan intelektualitas semata, namun kecerdasan spiritual dengan selalu memohon pertolongan dan bimbinganNya dalam sunyi dan keheningan juga merupakan bagian dari ikhtiar yang tidak kalah pentingnya.

Dalam dunia hukum dan peradilan, sering kali kita melihat adanya upaya untuk membangun skenario, merekayasa bahkan tipu muslihat untuk memenangkan sebuah perkara, padahal segala skenario rekayasa maupun tipu muslihat, tentu tiada berguna, hal ini sesuai dengan janji Allah dalam surat al Iisra 81 yang berbunyi: Wa qul jaa al haqqu wa zahaqol baathilu, innal baathila kaana zahuuqaa. (Yang benar telah datang, yang batil telah lenyap. Sesungguhnya yang bathil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap).

Untuk itu, dalam memperjuangkan keadilan harus ditempuh dengan cara-cara yang baik, sesuai dengan nilai-nilai kebenaran yang diperjuangkan. Pada hekekatnya dalam setiap agama apa pun prinsip dan nilai kebenaran harus selalu menjadi pegangan.

Memang memperjuangkan nilai-nilai kebenaran bukanlah suatu hal yang mudah, bukan hanya prosesnya yang tidak mudah, namun memperjuangkannya pun memiliki risiko yang berat. Sejarah telah menceritakan kepada kita tentang filosof Yunani bernama Socrates yang rela dihukum mati karena memperjuangkan nilai-nilai kebenaran yang diyakininya, meski saat ini apa yang dikemukakan Socrates tersebut jelas keberannya. Namun disisi lain, ia rela mematuhi hukuman pada masa itu dan menerima hukuman mati dengan cara meminum racun, karena ajarannya yang dianggap bertentangan dengan nilai-nilai hidup pada masanya.

Jabatan hakim dalam konsep Islam sering disebut sebagai qodhi, yaitu sesorang yang memiliki tanggungjawab dalam menjelaskan hukum Allah swt pada hambaNya. Dalam konsep hukum Islam jabatan hakim bukan jabatan yang ditujukan bagi orang atau kelompok yang menghendaki atau meminta. Jabatan tersebut ditujukan kepada orang yang memenuhi syarat dan kualifikasi tertentu, mengingat beban amanat maupun risiko yang harus ditanggungnya.

Jabatan hakim tak layak diisi oleh orang yang memiliki ambisi mengejar jabatan. Karena orang yang mengejar kedudukan dan jabatan memiliki kenderungan mengabaikan hak orang lain, tidak amanah, bahkan tidak tertutup kemungkinan berbuat khianat. Bahkan jika hakim dituju dengan ambisi, mengejar jabatan, maka, dikhawatirkan ia jauh dari hidayat dan taufiq Allah swt.

Ketika seorang sahabat menghadap Rasulullah untuk meminta sebuah jabatan, Rasulullah menolaknya dan, mengangkat sahabat lainnya untuk menduduki jabatan tersebut. Rasulullah saw bersabda: Demi Allah, sungguh kami tidak akan menguasakan tugas ini, termasuk hakim kepada orang yang memintanya, atau orang yang berambisi menjabatnya. (HR Bukhori-Muslim)

Jabatan pada hakekatnya adalah milik Allah. Sesuai dengan firman Allah dalam surat Ali Imron 26:
Qulillahumma maalikal mulki tu’tiil mulka miman tasyaa-u watanzi’ul mulka mimman tasyaa-u watu’izzu man tasyaa-u watudzillu man tasyaa-u biyadikal khairu.Innaka 'ala qullishayin qadeerun.

Artinya; Katakanlah "Wahai Tuhan yang maha mempunyai kerajaan,Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki.dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki.
Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau binasakan orang yang Engkau kehendaki.Ditangan Engkaulah segala segala kebajikan.Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Semoga tulisan ini bisa mengispirasi kita untuk berbuat adil karena keadilan itu ialah hak setiap kita

Jumat, 14 Juni 2019

DUNIA POLITIK


Berbicara politik sangatlah gampang dan terjun kedunia politik akan berkecimpung dengan kebohongan dan fitnah.Saling menjelek jelekkan lawan politiknya dan tak jarang terjadi menggunting dalam lipatan.Tetapi ini terjadi mungkin  hanya di Indonesia saja yang politiknya tidak di barengi dengan aqidah ahlak yang menunjukkan kemajemukan bangsa.Lebih-lebih lagi yang menjadi masalah adalah respon dan reaksi kita terhadap fitnah dan kebohongan publiklah yang membuat kita mau tidak mau akan terlibat dalam menghadapi masalah itu, inilah yang disebut dengan akhlaq, 
MORAL DIPERTARUHKAN
Berlomba dan mendapatkan kekayaan dengan cara : licik, serakah, menghalalkan berbagai cara, menekan kebawah menjilat keatas. ketika berhasil muncul sifat : sombong, ria (pamer), kikir, tidak puas, ketika tidak berhasil muncul sifat : iri dan dengki
Kekayan dan jabatan tidak diiringi kesuksesan dan kebahagian rohani, sehingga stress, tidak tenang, keluh kesah, takut,berprasangka
 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Bohong,Fitnah,Dendam,Hasut,Iri dan dengki.Tapi apa hasilnya buat dunia dan akhirat ?
 Dunia ini adalah tempat menimbah ilmu,mengabdi kepada sang pencipta,ibadah dan mencari bekal menuju akhirat .Wahai bangsaku wahai orang orang yang seagama denganku,dari sisi agama Islam kita dianjurkan untuk bekerja untuk mencari nafkah di dunia tapi jangan lupa akhiratmu.Kita semua akan mati yang waktu kita tidak dikasih tau olehNya dan apa bila telah datang azal kita maka tidak satupun manusia di permukaan bumi ini yang bisa menunda nunda kematian.

Mohan maaf atas segala kekurangan dan kelancangan tulisan ini,

Senin, 20 Mei 2013

Pentingnya Reward dan Punishment dalam Organisasi


Kata Reward dan Punishment merupakan dua bentuk metode dalam memotivasi seseorang untuk melakukan kebaikan dan meningkatkan prestasinya. Kedua metode ini sudah cukup lama dikenal dalam dunia kerja. Tidak hanya dalam dunia kerja, dalam dunia penidikan pun kedua ini kerap kali digunakan. Namun selalu terjadi perbedaan pandangan, mana yang lebih diprioritaskan antara reward dengan punishment?Yang jelas tujuan utama adalah meningkatkan mutu sebuah pekerjaan atau meningkatkan pelayanan apalagi menyangkut pelayanan publikReward artinya ganjaran, hadiah, penghargaan atau imbalan. Dalam konsep manajemen, reward merupakan salah satu alat untuk peningkatan motivasi para pegawai/karyawan. Metode ini bisa meng-asosiasi-kan perbuatan dan kelakuan seseorang dengan perasaan bahagia, senang, dan biasanya akan membuat mereka melakukan suatu perbuatan yang baik secara berulang-ulang. Selain motivasi, reward juga bertujuan agar seseorang menjadi giat lagi usahanya untuk memperbaiki atau meningkatkan prestasi yang telah telah tercapai sebelumnya
Sementara punishment diartikan sebagai hukuman atau sanksi. Jika reward merupakan bentuk reinforcement yang positif, maka punishment sebagai bentuk reinforcement yang negatif, tetapi kalau diberikan secara tepat dan bijak bisa menjadi alat motivasi seandainya diberikan dengan hal yang tidak bijak,tidak objektif tentu akan menjadi perlawanan dan pembangkangan bagi seorang pegawai tersebut. Padahal tujuan dari metode ini adalah menimbulkan rasa tidak senang pada seseorang, jangan membuat sesuatu yang jahat. Jadi, hukuman yang dilakukan mesti bersifat pedagogies, yaitu untuk memperbaiki dan mendidik ke arah yang lebih baik.


Pada dasarnya keduanya sama-sama dibutuhkan dalam memotivasi seseorang, termasuk dalam memotivasi para pegawai dalam meningkatkan kinerjanya. Keduanya merupakan reaksi dari seorang pimpinan terhadap kinerja dan produktivitas yang telah ditunjukkan oleh bawahannya; hukuman untuk perbuatan jahat dan ganjaran untuk perbuatan baik. Melihat dari fungsinya itu, seolah keduanya berlawanan, tetapi pada hakekatnya sama-sama bertujuan agar seseorang menjadi lebih baik, termasuk dalam memotivasi para pegawai dalam bekerja.

Reward And Punishment dalam Organisai

Dalam berorganisai misalnya, pemberlakuan metode Reward And Punishment merupakan hal yang penting untuk membentuk pribadi dari warga organisasi tersebut. Jika Punishment menghasilkan efek jera, maka Reward akan menghasilkan efek sebaliknya yaitu ketauladanan, untuk membuat Reward dan Punishment dapat berjalan denga baik diperlukan nya konsistensi yang dapat menjamin bahwa reward yang diberikan haruslah bersifat konkrit (bermanfaat), dan Punishment yang diberikan bersifat keras dan tidak pandang bulu.
Secara teori, penerapan reward dan punishment secara konsekuen dapat membawa pengaruh positif, antara lain:
1. Mekanisme dan sistem kerja di Suatu Organisai menjadi lebih baik, karena adanya tolak ukur kinerja yang jelas.2. Kinerja individu dalam suatu Organisasi semakin meningkat, karena adanya sistem pengawasan yang obyektif dan tepat sasaran.3. Adaya kepastian indikator kinerja yang menjadi ukuran kuantitatif maupun kualitatif tingkat pencapaian kinerja para individu Organisai.



Pada dasarnya keduanya sama-sama dibutuhkan dalam memotivasi seseorang, termasuk dalam memotivasi para pegawai dalam meningkatkan kinerjanya. Keduanya merupakan reaksi dari seorang pimpinan terhadap kinerja dan produktivitas yang telah ditunjukkan oleh bawahannya; hukuman untuk perbuatan jahat dan ganjaran untuk perbuatan baik. Melihat dari fungsinya itu, seolah keduanya berlawanan, tetapi pada hakekatnya sama-sama bertujuan agar seseorang menjadi lebih baik, termasuk dalam memotivasi para pegawai dalam bekerja.


Reward And Punishment dalam Organisai

Dalam berorganisai misalnya, pemberlakuan metode Reward And Punishment merupakan hal yang penting untuk membentuk pribadi dari warga organisasi tersebut. Jika Punishment menghasilkan efek jera, maka Reward akan menghasilkan efek sebaliknya yaitu ketauladanan, untuk membuat Reward dan Punishment dapat berjalan denga baik diperlukan nya konsistensi yang dapat menjamin bahwa reward yang diberikan haruslah bersifat konkrit (bermanfaat), dan Punishment yang diberikan bersifat keras dan tidak pandang bulu.
Secara teori, penerapan reward dan punishment secara konsekuen dapat membawa pengaruh positif, antara lain:
1. Mekanisme dan sistem kerja di Suatu Organisai menjadi lebih baik, karena adanya tolak ukur kinerja yang jelas.2. Kinerja individu dalam suatu Organisasi semakin meningkat, karena adanya sistem pengawasan yang obyektif dan tepat sasaran.3. Adaya kepastian indikator kinerja yang menjadi ukuran kuantitatif maupun kualitatif tingkat pencapaian kinerja para individu Organisai.


Pada dasarnya keduanya sama-sama dibutuhkan dalam memotivasi seseorang, termasuk dalam memotivasi para pegawai dalam meningkatkan kinerjanya. Keduanya merupakan reaksi dari seorang pimpinan terhadap kinerja dan produktivitas yang telah ditunjukkan oleh bawahannya; hukuman untuk perbuatan jahat dan ganjaran untuk perbuatan baik. Melihat dari fungsinya itu, seolah keduanya berlawanan, tetapi pada hakekatnya sama-sama bertujuan agar seseorang menjadi lebih baik, termasuk dalam memotivasi para pegawai dalam bekerja.

Reward dan Punishment dalam Organisai

Dalam berorganisai misalnya, pemberlakuan metode Reward And Punishment merupakan hal yang penting untuk membentuk pribadi dari warga organisasi tersebut. Jika Punishment menghasilkan efek jera, maka Reward akan menghasilkan efek sebaliknya yaitu ketauladanan, untuk membuat Reward dan Punishment dapat berjalan denga baik diperlukan nya konsistensi yang dapat menjamin bahwa reward yang diberikan haruslah bersifat konkrit (bermanfaat), dan Punishment yang diberikan bersifat keras dan tidak pandang bulu.
Secara teori, penerapan reward dan punishment secara konsekuen dapat membawa pengaruh positif, antara lain:
1. Mekanisme dan sistem kerja di Suatu Organisai menjadi lebih baik, karena adanya tolok ukur kinerja yang jelas.2. Kinerja individu dalam suatu Organisasi semakin meningkat, karena adanya sistem pengawasan yang obyektif dan tepat sasaran.3. Adaya kepastian indikator kinerja yang menjadi ukuran kuantitatif maupun kualitatif tingkat pencapaian kinerja para individu Organisai.

Pada dasarnya keduanya sama-sama dibutuhkan dalam memotivasi seseorang, termasuk dalam memotivasi para pegawai dalam meningkatkan kinerjanya. Keduanya merupakan reaksi dari seorang pimpinan terhadap kinerja dan produktivitas yang telah ditunjukkan oleh bawahannya; hukuman untuk perbuatan jahat dan ganjaran untuk perbuatan baik. Melihat dari fungsinya itu, seolah keduanya berlawanan, tetapi pada hakekatnya sama-sama bertujuan agar seseorang menjadi lebih baik, termasuk dalam memotivasi para pegawai dalam bekerja.

Reward dan Punishment dalam Organisai

Dalam berorganisai misalnya, pemberlakuan metode Reward And Punishment merupakan hal yang penting untuk membentuk pribadi dari warga organisasi tersebut. Jika Punishment menghasilkan efek jera, maka Reward akan menghasilkan efek sebaliknya yaitu ketauladanan, untuk membuat Reward dan Punishment dapat berjalan denga baik diperlukan nya konsistensi yang dapat menjamin bahwa reward yang diberikan haruslah bersifat konkrit (bermanfaat), dan Punishment yang diberikan bersifat keras dan tidak pandang bulu.
Secara teori, penerapan reward dan punishment secara konsekuen dapat membawa pengaruh positif, antara lain:
1. Mekanisme dan sistem kerja di Suatu Organisai menjadi lebih baik, karena adanya tolak ukur kinerja yang jelas.2. Kinerja individu dalam suatu Organisasi semakin meningkat, karena adanya sistem pengawasan yang obyektif dan tepat sasaran.3. Adaya kepastian indikator kinerja yang menjadi ukuran kuantitatif maupun kualitatif tingkat pencapaian kinerja para individu Organisai.
Pada dasarnya keduanya sama-sama dibutuhkan dalam memotivasi seseorang, termasuk dalam memotivasi para pegawai dalam meningkatkan kinerjanya. Keduanya merupakan reaksi dari seorang pimpinan terhadap kinerja dan produktivitas yang telah ditunjukkan oleh bawahannya; hukuman untuk perbuatan jahat dan ganjaran untuk perbuatan baik. Melihat dari fungsinya itu, seolah keduanya berlawanan, tetapi pada hakekatnya sama-sama bertujuan agar seseorang menjadi lebih baik, termasuk dalam memotivasi para pegawai dalam bekerja.
Reward And Punishment dalam Organisai

Dalam berorganisai misalnya, pemberlakuan metode Reward And Punishment merupakan hal yang penting untuk membentuk pribadi dari warga organisasi tersebut. Jika Punishment menghasilkan efek jera, maka Reward akan menghasilkan efek sebaliknya yaitu ketauladanan, untuk membuat Reward dan Punishment dapat berjalan denga baik diperlukan nya konsistensi yang dapat menjamin bahwa reward yang diberikan haruslah bersifat konkrit (bermanfaat), dan Punishment yang diberikan bersifat keras dan tidak pandang bulu.
Secara teori, penerapan reward dan punishment secara konsekuen dapat membawa pengaruh positif, antara lain:
1. Mekanisme dan sistem kerja di Suatu Organisai menjadi lebih baik, karena adanya tolak ukur kinerja yang jelas.2. Kinerja individu dalam suatu Organisasi semakin meningkat, karena adanya sistem pengawasan yang obyektif dan tepat sasaran.3. Adaya kepastian indikator kinerja yang menjadi ukuran kuantitatif maupun kualitatif tingkat pencapaian kinerja para individu Organisai.

Reward And Punishment dalam Organisai

Dalam berorganisai misalnya, pemberlakuan metode Reward And Punishment merupakan hal yang penting untuk membentuk pribadi dari warga organisasi tersebut. Jika Punishment menghasilkan efek jera, maka Reward akan menghasilkan efek sebaliknya yaitu ketauladanan, untuk membuat Reward dan Punishment dapat berjalan denga baik diperlukan nya konsistensi yang dapat menjamin bahwa reward yang diberikan haruslah bersifat konkrit (bermanfaat), dan Punishment yang diberikan bersifat keras dan tidak pandang bulu.
Secara teori, penerapan reward dan punishment secara konsekuen dapat membawa pengaruh positif, antara lain:
1. Mekanisme dan sistem kerja di Suatu Organisai menjadi lebih baik, karena adanya tolak ukur kinerja yang jelas.2. Kinerja individu dalam suatu Organisasi semakin meningkat, karena adanya sistem pengawasan yang obyektif dan tepat sasaran.3. Adaya kepastian indikator kinerja yang menjadi ukuran kuantitatif maupun kualitatif tingkat pencapaian kinerja para individu Organisai.
Reward And Punishment dalam Organisai
Dalam berorganisai misalnya, pemberlakuan metode Reward And Punishment merupakan hal yang penting untuk membentuk pribadi dari warga organisasi tersebut. Jika Punishment menghasilkan efek jera, maka Reward akan menghasilkan efek sebaliknya yaitu ketauladanan, untuk membuat Reward dan Punishment dapat berjalan denga baik diperlukan nya konsistensi yang dapat menjamin bahwa reward yang diberikan haruslah bersifat konkrit (bermanfaat), dan Punishment yang diberikan bersifat keras dan tidak pandang bulu.
Secara teori, penerapan reward dan punishment secara konsekuen dapat membawa pengaruh positif, antara lain:
1. Mekanisme dan sistem kerja di Suatu Organisai menjadi lebih baik, karena adanya tolak ukur kinerja yang jelas.2. Kinerja individu dalam suatu Organisasi semakin meningkat, karena adanya sistem pengawasan yang obyektif dan tepat sasaran.3. Adaya kepastian indikator kinerja yang menjadi ukuran kuantitatif maupun kualitatif tingkat pencapaian kinerja para individu Organisai.

Dalam berorganisai misalnya, pemberlakuan metode Reward And Punishment merupakan hal yang penting untuk membentuk pribadi dari warga organisasi tersebut. Jika Punishment menghasilkan efek jera, maka Reward akan menghasilkan efek sebaliknya yaitu ketauladanan, untuk membuat Reward dan Punishment dapat berjalan denga baik diperlukan nya konsistensi yang dapat menjamin bahwa reward yang diberikan haruslah bersifat konkrit (bermanfaat), dan Punishment yang diberikan bersifat keras dan tidak pandang bulu.Secara teori, penerapan reward dan punishment secara konsekuen dapat membawa pengaruh positif, antara lain:1. Mekanisme dan sistem kerja di Suatu Organisai menjadi lebih baik, karena adanya tolak ukur kinerja yang jelas.2. Kinerja individu dalam suatu Organisasi semakin meningkat, karena adanya sistem pengawasan yang obyektif dan tepat sasaran.3. Adaya kepastian indikator kinerja yang menjadi ukuran kuantitatif maupun kualitatif tingkat pencapaian kinerja para individu Organisai.Dalam berorganisai misalnya, pemberlakuan metode Reward And Punishment merupakan hal yang penting untuk membentuk pribadi dari warga organisasi tersebut. Jika Punishment menghasilkan efek jera, maka Reward akan menghasilkan efek sebaliknya yaitu ketauladanan, untuk membuat Reward dan Punishment dapat berjalan denga baik diperlukan nya konsistensi yang dapat menjamin bahwa reward yang diberikan haruslah bersifat konkrit (bermanfaat), dan Punishment yang diberikan bersifat keras dan tidak pandang bulu.Secara teori, penerapan reward dan punishment secara konsekuen dapat membawa pengaruh positif, antara lain:1. Mekanisme dan sistem kerja di Suatu Organisai menjadi lebih baik, karena adanya tolak ukur kinerja yang jelas.2. Kinerja individu dalam suatu Organisasi semakin meningkat, karena adanya sistem pengawasan yang obyektif dan tepat sasaran.3. Adaya kepastian indikator kinerja yang menjadi ukuran kuantitatif maupun kualitatif tingkat pencapaian kinerja para individu Organisai.



Cerita di ujung hidup seorang manusia yang sangat mencintai kita semua*

 *Cerita di ujung hidup seorang manusia yang sangat mencintai kita semua* Allahuma Sholli'alaa Sayyidina Muhammad. Cerita yang tak perna...